Gaya Tulisan Berasal dari Membaca

Riset dengan jelas menunjukkan bahwa kita belajar menulis lewat membaca. Untuk lebih tepatnya, kita memperoleh gaya tulisan, bahasa khusus penulisan, dengan membaca. Kita sudah melihat banyak bukti yang menegaskan hal ini: Anak-anak yang berpartisipasi dalam program membaca-bebas, menulis dengan lebih baik (misalnya, Elley dan Mangubhai, 1983; McNeil dalam Fader, 1976) dan mereka yang melaporkan bahwa semakin banyak mereka membaca semakin baik tulisannya (misalnya, Kimberling et al., 1988 sebagaimana dilaporkan dalam Krashen 1978, 1984; Applebee, 1978; Alexander, 1986; Salyer, 1987; Janopoulus, 1986; Kaplan dan Palhinda, 1981; Applebee et al., 1990).

Ada alasan lain untuk memperkirakan bahwa gaya penulisan berasal dari membaca. “Argumen kompleksitas” berlaku pula untuk penulisan: Semua cara di mana bahasa tertulis “resmi” berbeda dengan bahasa yang lebih informal terlalu rumit untuk dipelajari satu per satu. Bahkan walau pembaca mengenali tulisan yang baik, para peneliti tidak berhasil menjabarkan secara lengkap tentang apa persisnya yang membuat tulisan yang “bagus” itu bagus. Oleh karena itu, masuk akal untuk mengatakan gaya penulisan tidak dipelajari secara sadar, melainkan umumnya diserap, atau secara tidak sadar diperoleh, lewat membaca.

Hunting (1967) memaparkan riset untuk disertasi (tidak dipublikasikan) yang menunjukkan bahwa kuantitas tulisan tidak berkaitan dengan kualitas tulisan. Banyak sekali kajian yang menunjukkan bahwa meningkatnya kuantitas tulisan tidak mempengaruhi kualitas tulisan. Nah, tentang gaya tulisan berasal dari membaca bukan dari menulis, sejalan dengan yang diketahui tentang kemahiran berbahasa: Kemahiran berbahasa diperoleh melalui masukan (input), bukan keluaran (output), dari pemahaman, bukan hasil. Dengan demikian, jika Anda menulis satu halaman sehari, gaya tulisan Anda tidak akan meningkat. Akan tetapi, hal baik lain bisa dihasilkan dari tulisan Anda, sebagaimana yang akan kita lihat dalam pembahasan berikut.

Apa yang Dilakukan Tulisan

Kendati menulis tidak membantu kita mengembangkan gaya penulisan, menulis mempunyai keuntungan lain. Seperti yang dikemukakan Smith (1988), kita menulis setidaknya karena dua alasan. Pertama, dan paling nyata, kita menulis untuk berkomunikasi dengan orang lain. Namun mungkin yang lebih penting, kita menulis untuk diri kita sendiri, untuk memperjelas dan merangsang pikiran kita. Sebagian besar tulisan kita, bahkan kalaupun kita adalah penulis yang karyanya diterbitkan, adalah untuk diri kita sendiri.

Seperti yang diungkapkan Elbow (1973), sulit untuk mengendalikan lebih dari satu gagasan dalam pikiran sekaligus. Tatkala kita menuliskan gagasan kita, hal-hal samar dan abstrak menjadi jelas dan konkret. Saat semua pikiran tumpah di atas kertas, kita bisa melihat hubungan di antara mereka, dan bisa menciptakan pemikiran yang lebih baik. Menulis, dengan kata lain, bisa membuat kita lebih cerdas.

Menulis bisa membantu kita berpikir secara menyeluruh dan menyelesaikan masalah. Pembaca yang selalu menuliskan catatan harian atau jurnal tahu banyak tentang hal ini — Anda menghadapi masalah, Anda menuliskannya, dan setidaknya 10 persen dari masalah itu raib. Terkadang, keseluruhan permasalahan itu hilang.

Mungkin, bukti eksperimental terjelas yang memperlihatkan bahwa menulis membantu pemikiran adalah serangkaian kajian yang dilakukan Langer dan Applebee (1987). Siswa-siswa sekolah menengah diminta membaca telaah sosial kemudian mempelajari informasi di dalamnya dengan menuliskan esai analitis tentang pertanyaan yang ditugaskan berkaitan dengan topik tersebut, atau dengan menggunakan teknik belajar lainnya (misalnya membuat catatan, menjawab pertanyaan tentang pemahaman, menuliskan ringkasan, teknik belajar “normal” tanpa menulis).

Lalu para siswa itu diberi pelbagai ujian mengenai materi bacaan. Langer dan Applebee melaporkan bahwa “secara umum, tanggapan tertulis apa pun mengarah pada kinerja yang lebih baik dibanding membaca tanpa menulis”. Dalam kajian ketiga, mereka menunjukkan bahwa menulis esai tidak membuat informasi bertahan lama (di otak) jika materi bacaan yang diberikan mudah; namun apabila materi yang mereka baca sulit, penulis esai memberikan hasil yang jauh lebih baik dibanding siswa yang menggunakan teknik belajar lainnya. Hasil serupa tentang keefektifan penulisan esai dilaporkan oleh Newell (1984), Marshall (1987), serta Newell dan Winograd (1989).

Terkadang, sedikit saja menulis sudah bisa membuat perbedaan besar. Dalam kajian yang dilakukan Ganguli (1989), ditunjukkan bahwa mahasiswa matematika yang meluangkan tiga menit per periode untuk menjabarkan dalam bentuk tulisan konsep penting yang dikemukakan di kelas, lebih unggul dalam ujian akhir semester dibanding kelompok pembanding. Untuk ulasan mengenai riset tambahan yang mendukung hipotesis bahwa menulis “bisa membuat Anda lebih cerdas”, lihat Applebee (1984) dan Krashen (1990).

Akhirnya, kesimpulan saya sederhana saja. Apabila anak-anak membaca untuk kesenangan, apabila mereka “terikat dengan buku”, mereka memperoleh, secara tidak sengaja dan tanpa usaha yang dilakukan dengan sadar, hampir semua hal yang disebut “ketrampilan kebahasaan” yang sangat diperhatikan oleh banyak orang: Mereka akan menjadi pembaca handal, mendapatkan banyak kosakata, mengembangkan kemampuan untuk memahami dan menggunakan susunan kalimat majemuk, mengembangkan gaya penulisan yang bagus, dan menjadi pengeja yang hebat (walau bukan sempurna). Meskipun membaca dengan bebas dan dengan sengaja itu sendiri tidak akan memastikan didapatkannya kecakapan pada tingkatan tertinggi, setidaknya ia menjamin tingkatan yang dapat diterima. Tanpa hal itu, saya duga anak-anak tidak berpeluang.

Ketika kita membaca, kita betul-betul tidak punya pilihan kita harus melek huruf. Kita jarang menemukan orang yang membaca dengan baik menghadapi persoalan serius berkenaan dengan tata bahasa, ejaan, dan lain-lain. Mereka menulis cukup bagus karena mereka tidak bisa menahannya; mereka memiliki gaya tulisan yang tanpa sadar diperoleh, begitu pula aturan kepenulisan.

Orang yang membaca dengan baik, menulis dengan baik pula karena mereka secara tidak sadar mendapatkan gaya penulisan yang baik. Akan tetapi, saya bukan mengajukan program kebahasaan yang terdiri dari hanya membaca bebas. Saya juga sepakat dengan nilai membaca yang ditugaskan oleh guru dan direkomendasikan oleh guru, petugas perpustakaan, dan orangtua. Membaca yang ditugaskan serta membaca bebas dan disengaja akan saling membantu: lewat literatur, siswa akan tumbuh secara intelektual dan akan terpapar dengan aneka ragam buku, yang bisa merangsang untuk lebih banyak membaca bebas.

MBS bukanlah pengganti program kebahasaan. MBS melengkapi kelas seni berbahasa. Masalah kita dalam pendidikan kebahasaan, sebagaimana dikemukakan Frank Smith, adalah bahwa kita mencampuradukkan sebab dan akibat. Kita mengira kita pertama-tama mempelajari “ketrampilan” berbahasa dan kemudian menerapkan ketrampilan ini dalam membaca dan menulis. Tetapi bukan begitu cara kerja otak manusia. Yang lebih tepat: membaca untuk mencari pemahaman atau pemaknaan, membaca tentang hal-hal yang penting bagi kita, adalah pemicu berkembangnya kefasihan berbahasa.

Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku : Quantum Writing
Penerbit : MLC, Bandung, 2003
Hal : 105 – 116

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s