Kreatif Mengembangkan Ide

Pada hakikatnya, semua orang memiliki bakat kreatif. Salah satu tanda kita terlahir sebagai makhluk kreatif adalah kemampuan kita berkomunikasi dengan ungkapan dan ide-ide segar. Namun demikian, bekal ini semata tidaklah memadai. Kreativitas itu seperti otot yang perlu terus menerus dilatih dan dikembangkan. Kreativitas perlu diiringi oleh ketekunan yang konsisten dalam proses kreatif mengembangkan ide.

Melahirkan Ide

Penulis kreatif memunyai kemampuan untuk menciptakan dan menghasilkan karya yang khas. Substansi utamanya adalah ide. Lalu pertanyaan yang sering dilontarkan para penulis, bagaimana menciptakan ide yang khas?

Bukankah setiap hari banyak gagasan yang terlintas di benak kita? Bukankah ada banyak gejolak perasaan dalam diri kita hari demi hari? Bukankah banyak hal yang bisa ditangkap oleh indera kita dan dijadikan bahan baku tulisan? Ide muncul dari pikiran, perasaan, dan pengalaman kita sehari-hari. Itulah sebabnya, penulis profesional sering kali menganjurkan agar para penulis memunyai buku harian. Hernowo, seorang penulis profesional, mengatakan, “Jangan menganggap enteng nilai sebuah buku harian. Setiap masukan — corat-coret yang Anda baca dan baca ulang — merupakan peluang bagi sosial dan bakat seni Anda.” Buku harian bisa menjadi gudang ide penulis.

Salah satu cara memperkaya gudang ide adalah dengan membaca. Menulis dan membaca itu ibarat dua sisi koin yang tak terpisahkan. Membaca bisa memperkaya pengetahuan dan perbendaharaan kata kita. Ide juga bisa dirangsang dengan mempelajari gagasan dari berbagai karya orang lain. Jika kita semakin banyak menyerap isi bacaan, kita akan lebih peka dan jeli merangkai ide-ide baru. Penulis kreatif memandang dunianya sebagai laboratorium ide, yang memungkinkannya menemukan ide-ide baru.

Mengembangkan Ide

Ide bisa muncul dengan cepat, tetapi acap kali lenyap secepat kilat. Karena itu, segeralah ikat ide Anda sebelum lenyap. Setelah itu, tuliskan garis besar ide Anda. Meskipun menuangkan ide dalam kata-kata tidaklah segampang menuangkan segelas air, teruslah berusaha. Banyak penulis mengeluh, “Idenya ada, tetapi gagal menjadi sebuah karya.” Sesungguhnya, proses kreatif tidak terlepas dari kemauan keras untuk menjabarkan ide itu.

Ide bisa dikembangkan dengan memperluas wawasan referensi dan kebahasaan kita. Kita perlu menyiapkan bahan referensi yang bisa mendukung gagasan kita. Dengan kecanggihan teknologi dan media saat ini, kita tidak akan kesulitan mencari bahan referensi dari buku, koran, internet, dan berbagai bahan bacaan lainnya. Sedangkan untuk memperluas wawasan kebahasaan kita, penulis bisa mengakrabkan diri dengan kosakata baru, penguasaan kaidah berbahasa, dan penguasaan pengetahuan makna.

Selain itu, pada tahap ini penulis perlu mengerahkan kekuatan daya imajinasinya dalam tulisan. Demi mendapatkan imajinasi ini, banyak penulis membenamkan diri dalam cerita mereka. Mereka hidup, bernapas, dan bermimpi bersamanya. Stephen King, penulis yang sangat berpengaruh, mengatakan, “Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan napas hidupnya.”

Menyempurnakan Ide

Penulis kreatif adalah pekerja yang tekun. Dia tidak akan puas dengan draf awal tulisannya. Dia sadar bahwa karyanya bukanlah produk sekali jadi. Proses penyempurnaan dalam rangka mencapai hasil yang maksimal ini tidak hanya dilakukan oleh penulis pemula, bahkan sebagian besar penulis yang sudah punya nama tetap melakukannya. Penyuntingan sebaiknya dilakukan setelah karya tersebut diendapkan beberapa waktu. Penulis perlu memberi ruang bagi dirinya, agar dia bisa menyunting karya tersebut dengan lebih objektif. Proses penyuntingan tidak harus dilakukan oleh penulis sendiri. Penulis juga bisa meminta bantuan orang lain yang kompeten, untuk memberikan masukan atau perubahan yang berarti dalam karyanya.

Proses-proses ini tidaklah selalu mudah dilakukan. Hampir semua karya yang indah merupakan hasil dari kerja keras. Akan tetapi, jika penulis memiliki bakat, kemauan, dan ketekunan yang konsisten, proses-proses ini akan menjadi pengalaman hidup yang menantang baginya. Dia tidak akan lelah melahirkan, mengembangkan, dan menyempurnakan idenya dalam kemasan istimewa. Dia akan menindaklanjuti proses ini dengan terus berlatih menulis, sampai akhirnya karya-karya kreatif itu diluncurkan.

Referensi:

  1. Ishwara, Luwi. 2005. Catatan-catatan Jurnalisme Dasar. Jakarta: Kompas.
  2. Marwoto, Ms. dkk. 1985. Komposisi Praktis. Yogyakarta: PT. Hanindita Offset.
  3. Wiedarti, Pangesti. 2005. Menuju Budaya Menulis. Yogyakarta: Tiara Wacana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s